|
Ebo dan Herbi rencananya nonton GIE tapi nggak jadi, karena datang ke bioskopnya telat. Akhirnya kita milih studio yang lain nonton film 'War of the Worlds'. So this is the sekelumit cerita yang aku kumpulkan tentang War of The Worlds Versi Hollywood War of the Worlds terbaru karya Steven Spielberg yang diangkat dari Novel karya H.G. Wells ini cukup menarik perhatian. Bukan cuma karena film ini dikerjakan oleh sutradara kenamaan yang sukses dengan puluhan karya penuh special effect megah tapi karena War of the Worlds merupakan karya klasik yang telah menjadi beautiful nightmare bagi para remaja dan anak-anak selama puluhan tahun. Beberapa orang menganggap War of the Worlds adalah kisah khayalan yang konyol, tentang ekspansi mahluk Alien terhadap bumi. Tapi bagi yang menghargai sebuah proses berkarya, War of the Worlds adalah salah satu ide jenius tentang ekspansi pemikiran yang telah mempengaruhi banyak kreator kisah-kisah science fiction masa kini. Sebut saja, Steven Spielberg yang pasti sudah sangat anda kenal dengan karya-karyanya yang luar biasa. Steven mengangkat ‘kisah konyol’ ini ke media layar lebar demi menghormati sebuah kisah yang yang telah membimbingnya menjadi tukang cerita yang dibayar mahal karena khayalannya. Tahukah kamu? Kisah War of the Worlds pernah menjadi kisah yang sangat menggemparkan Amerika pada tahun 1938. Karena novelnya sangat laku seperti Harry Potter? Bukan!, bukan!. Bukan karena best seller. Tapi karena kisah War of the Worlds pernah bikin masyarakat Amerika panik luar biasa. Satu malam sebelum Hallowen tahun 1938. War of the Worlds dikisahkan dalam bentuk drama radio, diprakarsai oleh 2 orang pendongeng Orson Welles dan John Houseman. Ketika Jutaan orang di Amerika mendengar sebuah sandiwara radio, tiba-tiba ditengah-tengah kisah dipotong sebuah berita radio yang mengejutkan. “Ladies and gentlemen, Saya Carl Phillips, saat ini saya berada di Wilmuth farm, Grovers Mill, New Jersey. . . .Well, Saya . . tidak tahu dari mana memulainya, saya tidak punya kata-kata untuk menceritakannya! saya baru saja tiba di tempat ini… saya hampir tidak mempercayai apa yang saya lihat saat ini … sebuah pemandangan yang menakjubkan…. seperti… seperti dalam kisah modern Arabian Nights. Saya tidak tahu apa yang saya lihat… sesuatu muncul dari dalam tanah. Tadi diawali sebuah goncangan yang hebat…. kemudian sebuah lubang menganga dari dalam bumi…. seperti sebuah bekas meteor yang jatuh. Lihat.. sebuah obyek keluar dari lubang tersebut .. bukan meteor… tapi lebih menyerupai silinder raksasa….” Selang beberapa menit kemudian “reporter” Phillips, ditemani oleh “astronomer,” Professor Pierson, menceritakan seperti sebuah berita radio tentang kemunculan robot-robot raksasa dari dalam bumi yang menghancurkan apapun yang menghadang. Menghancurkan gedung dan membunuh ribuan manusia. Ditambah dengan laporan beberapa reporter lain yang dikisahkan menceritakan kejadian secara langsung tentang penyerangan alien di daerah yang lain. Kisah ‘Siaran Berita’ tersebut makin lama makin berkembang, makin horor dan bertambah kacau. Ditambah lagi dengan sound effect yang mengesankan bangunan roboh dan dihancurkan dan juga suara latar belakang orang-orang yang minta tolong ketakutan. Para pendatang asing dari planet Mars telah datang untuk menguasai Bumi!. Dikabarkan kemudian, bahwa robot-robot alien sebentar lagi tiba di New York. Tentara AD dan AU mati-matian menghadang serangan tersebut. Para alien menghancurkan jalur komunikasi dan menyemburkan gas beracun. Beberapa saat kemudian ‘Pejabat Departemen Keamanan’ memberikan pidatonya lewat radio agar masayarakat Amerika jangan panik. Yang terjadi pada malam itu adalah: Pidato tersebut memancing masyarakat Amerika jadi panik beneran. Sebagian besar pendengar radio mempercayai apa yang baru saja mereka dengar bukan sebuah sandiwara radio. Kepanikan massal terjadi di New York, Orang-orang banyak yang mengungsi, aksi ini memicu orang-orang yang tidak tahu menahu tentang ‘berita radio’ tersebut. “Tidakkah kamu mendengar pasukan alien sebentar lagi akan menghancurkan New York?, ayo selamatkan dirimu!” begitu seru orang-orang panik tersebut. Histeria massal ini menyebabkan macet yang panjang, banyak yang menangis ketakutan, banyak yang mati karena kecelakaan dan ada pula kabar tentang orang-orang yang memilih untuk bunuh diri. Pada esok harinya, banyak media memasang kisah konyol ini. New York Daily News memasang headline: “Fake Radio ÔWar’ Stirs Terror Through U.S.”, kemudianThe New York Times:"Radio Listeners in Panic, Taking WarpDrama as Fact" Robert E. Bartholomew dan Benjamin Radford, dalam bukunya Hoaxes, Myths, and Manias (2003), menulis bahwa sandiwara War of the Worlds sebuah kisah Khayalan yang berhasil mengelabui orang-orang terbesar dalam sejarah. Kepanikan karena sebuah kebohongan radio yang lainnya pernah terjadi juga di stasiun radio Chilli di Santiago Pada tanggal 12 November 1944. dan juga tercatat di Quito, Ecuador, 12 Pebruari 1949 Alex Boese lewat Museum of Hoaxes (2002) mengatakan “sandiwara radio tersebut tidak bertujuan untuk membohongi siapapun.” Mustinya masyarakat harus bisa menilai sesuatu benar apa tidak langsung ke stasiun radio. Bukankah acara radio War of The Worlds sudah jelas-jelas menggambarkan sesuatu yang bohong, di mana ada pesan-pesan komersial yang juga ikut tersiarkan di sela-sela acara, ada pembukaan dan juga musik pengiring yang terencanakan. Jelas-jelas ini sebuah acara hiburan yang hanya berisi permainan” Orson Welles si otak pembuat acara sandiwara radio ini mengatakan bahwa masyarakat mestinya sudah mengenal bahwa tehnik sandiwara radio yang dikemas seakan-akan sebuah reportasi siaran berita ini telah dipakainya berulang-ulang sejak 1926. Lucu ya…?
Tags: war of the worlds hollywood movie Steven Spielberg H.G. Wells
Artikel Terkait:
|