| Written by Putu Ebo, on 05-03-2008 12:07 |
| Views |
911  |
|
|
|
Melanjutkan artikel saya sebelumnya tentang Buku Panduan Menjadi Karikaturis karya Pramono R. Pramoedjo . Maaf postingan ini memang tentang kartun tapi tidak ada gambarnya.. Gambar kartun tersedia pada postingan saya yang lain, coba saja klik menu blog kartun di atas... Berbicara mengenai tehnik wajah kartun, beberapa tahun lalu saya pernah bikin postingan tentang 'Bagaimana mengkartunkan Wajah' pada blog versi saya yang lama yang kini hanya bisa nongol di archive.org. Niat saya murni bagi-bagi ilmu, apalagi pada saat sekarang sangat ditunjang dengan adanya blog.. Saya suka kalau di Indonesia banyak kartunis. Seakan saya percaya bahwa dunia akan diselamatkan oleh para kartunis -- maka saya butuh banyak "bala tentara". Saya coba cari postingan lama tersebut untuk memperkuat postingan tentang resensi buku Pak Pram sebelumnya, tapi sepertinya databasenya benar-benar ditelan bumi (baca postingan ini untuk mengetahui kenapa postingan saya hilang), bahkan tidak semua data saya ada di archive.org. Ini beberapa catatan tanya jawab yang tersisa dari hardis komputer saya yang berjudul "Pingin Menjadi Kartunis Wajah?": Klik pada judul, untuk artikel ini secara lengkap...
Tanya: Kenapa musti kartun wajah? Jawab: Dunia kartun banyak pemilahan-pemilahannya. Definisnya juga beragam dan cenderung menjelimet karena keterbatasan kata-kata. Kartun wajah hanyalah salah satu penerapan secara spesifik dari kartun, yaitu menangkap karakter wajah manusia, kemudian didistorsikan menjadi lucu ke atas media (kertas gambar) dengan tetap mempertahankan karakter wajah tersebut. Di Indonesia ada kerancuan istilah karikatur. Biasanya kartun disebut juga karikatur. Padahal karikatur (dari bahasa latin: carricare) sebenarnya memiliki arti: kartun wajah. Gambar wajah yang diditorsikan, diplesetkan atau dipletotkan secara karakteristik. Karikatur sudah berkembang sejak abd ke-17 di Eropa bersamaan dengan perkembangan media cetak pada masa itu. Tanya: Kenapa musti kartun wajah? Jawab: Hanya 1 dari 10 kartunis yang mampu melakukannya. Menguasai bidang ini berarti anda menjadi kelompok profesi yang langka. Saingan sedikit, sehingga sesuai dengan hukum dagang... barang sedikit tersedia harga bisa terkatrol tinggi. Kesimpulan: Cepat kaya...! (halah, mirip slogan presentasi MLM) Tanya: Apa bedanya dengan melukis potret? Jawab: Sebenarnya nggak layak dibandingkan. Lukisan potret atau portret itu seperti memindahkan obyek ke kanvas atau media lainnya sesuai dengan apa yang terlihat. makanya disebut portret -- seperti berfoto. Kalau kartun wajah... sama sekali nggak ada sesuainya atau hanya meniru tepat sebagian kecil saja dengan obyek tapi masih bisa dikenali sebagai gambar si obyek karena dikenali dari karakter. Jadi gambar obyek yang kepindah ke dalam kartun wajah adalah karakter... Tanya: Kalau saya ingin menjadi kartunis wajah, hal apa yang harus saya pelajari terlebih dahulu? Jawab: Belajar menggambar! itu mutlak. Dan menggambar adalah ilmu yang bisa dipelajari. Percayalah! Kuasai dasar-dasar ilmu menggambar yang signifikan: Anatomi, Melukis portret. Kenali ragam sketsa macam-macam hidung, mulut, mata dll. Setelah itu tehnik penunjang lainnya: mengenali pencahayaan, perspektif, warna. Setelah itu: latihan, latihan dan latihan.... buat goresan yang matang! Tanya: Karakter mana yang menentukan kemiripan? Jawab: Relatif. Kebanyakan obyek wajah, karakter kuat terletak pada mata. Setelah itu hidung dan mulut. Selama gambar mata bisa dibuat tepat, karakter hidung dan mulut digarap seperlunya, maka bagian wajah yang lain walupun dipletoitkan ke segala arah akan tetap terlihat kemiripannya. Saya akui pertanyaan ini agak susah dijawab, kadangkala teori tadi nggak berlaku pada beberapa karakter wajah.. Jadi jawaban yang mungkin saya sampaikan adalah. Kalau pingin jadi kartunis wajah anda harus melatih satu ilmu lagi dan saya tidak tahu di mana dan bagaimana belajar ilmu ini... Tanya: Ilmu apa itu? Jawab: Sentimenology!. Maksudnya, perlu bersikap (sedikit) membangkitkan perasaan sentimen terlebih dahulu dengan obyek yang akan kita garap.. Memang lebih banyak menyangkut rasa. Amati bagian wajah mana dari obyek yang bikin saraf ketawamu terangsang, itulah karakter yang bisa kamu distorsi. Kemudian amati bagian wajah mana yang harus ditiru tepat seperti menggambar portret - karena apabila mendistorsi bagian ini justru akan merusak gambar secara keseluruhan. Tanya: Sentimen itu (kan) nggak baik (kan)..? Jawab: Nggak juga. Seperti halnya memegang kepala adalah tidak sopan tapi kita tidak bisa menuduh para tukang cukur tidak sopan. Ini ada dalam wilayah apresiasi, sebagai manusia beradab seorang kartunis juga harus berusaha untuk tidak melecehkan orang lain. Orang-orang bangsa kita kebanyakan nggak siap ditertawai apalagi menyangkut bagian wajah yang berusaha ia sembunyikan. Makanya.. ini terkait dengan wawasan para kartunis juga untuk belajar mengenali stereotype tiap bangsa, suku, agama, juga tergantung dari tingkat sosial, tingkat pendidikan, kedewasaan, lingkungan dll. Orang Indonesia adalah stereotype yang paling beragam dan tidak bisa diduga, jadi jalan terbaik adalah sebelum digambar harus seiijin si obyek atau yang bersedia bertanggung jawab kalau kita ingin menjadi kartunis wajah dalam kondisi aman dengan memegang etika setempat. Tanya: Bagaimana apabila ada orang yang tersinggung dan merasa terhina karena wajahnya dikartunkan. Jawab: Ini terkait dengan tanya jawab sebelumnya... Orang yang tersinggung tentunya berhak marah, secara hukum boleh menuntut orang yang membuatnya tersinggung. Jadi, tetaplah ikut aturan main.. ketahui juga aturan2 yang berlaku. Misalnya seseorang kartunis mengisi sebuah media ia akan terikat pada kode etik jurnalisme tergantung pada tempat di mana media tersebut berada. Ada bagian-bagian yang boleh dan tidak... Seorang kartunis pada dunia jurnalisme biasanya justru akan dilindungi oleh aturan-aturan jurnalisme karena umumnya untuk menampilkan gambar wajah lucu pada media, seorang kartunis berada dalam lindungan kebebasan pers. Tapi walau demikian tetap ada batasan2 dan trik-trik lainnya. Misalnya, ketahui tokoh-tokoh mana saja yang tidak boleh digambar. Menampilkan wajah kartun akan aman-aman saja selama kita tidak menampilkan atau menyebutkan nama (berupa teks, gambar tag, balon kata dll) dan tidak menampilkan simbol, logo, trademark tertentu. Tanya: Bagaimana cara mengenali bagian lucu dari wajah manusia? Jawab: Lakukan dalam hati jangan diucapkan. Amati tiap wajah manusia. Percayalah mereka pasti memiliki bagian wajah yang lucu, karena tidak ada wajah manusia yang tercipta sempurna bahkan Dian Sastropun tidak. Paling mudah mengamati wajah pada saat ia berekspresi tersenyum, kadangkala karakternya baru muncul dari kerutan-kerutan wajah pada saat berekspresi. Lihat terus anda akan melihat ada beberapa bagian wajah manusia yang tidak proporsi, misalnya: Hidungnya ke-gedean deh, atau giginya seperti kelinci, dagunya panjang baget, kenali juga bentuk wajahnya lebih cenderung menyerupai bangun apa. Apakah bulet, lonjong, kotak atau jajaran genjang? Setelah ketemu buat distorsi, bagian yang ke-gedean langsung aja buat lebih gede lagi atau dagunya panjang buat menjadi panjang baget. Jangan takut untuk mencoba. Tiru dulu waja-wajah orang yang kamu kenal yang kamu yakin mereka nggak bakalan marah kalau wajahnya 'dirusak'. Tanya: Wajah siapa yang bisa saya pakai latihan? Jawab: Siapa saja yang menurut kamu lucu. Ada beberapa kategori wajah yang memang kartun pada awalnya, dipotertpun wajahnya memang kartun. Cari obyek yang gampang dulu... Cari wajah dengan karakter yang paling mudah namum signifikan. Seperti: orang brewok, orang bule dengan hidung yang memang besar, mata sipit, berkacamata, cukuran atau model rambut unik. dll. Tanya: Saya selalu kesulitan menggambar wajah perempuan Jawab: Biasanya kartunis pria lebih suka memilih wajah pria sebagai obyek kartun. Sejujurnya, banyak kartunis tidak tega merusak wajah perempuan, karena para kartunis umumnya pecinta perempuan yang baik. Memang butuh latihan membuat wajah manusia perempuan. Pelajari detail terutama pada mulut, hidung, rambut, mata, alis (semua deh). Oh ya dengan membuat wajah wanita manjadi terdistorsi ia akan cenderung menjadi tidak cantik dan kadang-kadang meyerupai pria. Jadi, jangan distorsikan wajah wanita berlebihan, sedikit saja.. dan ingat ada satu ciri khas yang dapat mempertahankan bahwa sang obyek adalah wanita, yaitu, buatlah bulu matanya lebih jelas walaupun si obyek sendiri tidak memiliki bulu mata. Tanya: Saya selalu kesulitan menggambar tangan Jawab: Ini tips mengawali belajar menggambar wajah manusia, bukan badan. Abaikan saja bagian ini.. Tanya: Tapi kan.... Jawab: Okeh kalau anda bersikeras, jawaban saya tetap sama.. latihan terus. Pelajari ilmu menggambar dari literatur2 yang ada, beli buku cara menggambar sebanyak-banyaknya, jangan cuma dibaca tapi langsung praktekkan. Belajar juga dari ahlinya, kalau memang harus membuat badan dan tetap merasa kesulitan, kenapa tidak coba buat gambar dengan tangan yang dimasukkan ke dalam kantung baju atau celana. Sehingga anda tidak perlu membuat jari-jari. *Perasaan tentang menggambar tangan ini selalu ditanyakan pada tiap pengajaran illustrasi dalam tingkat manapun. Tanya: Jelasakan saya mengenai stereotype! Jawab: Pertanyaan bagus. Suatu bangsa memilki kecenderungan tabiat yang sama. Begitu juga dalam menghadapi klien-klien dari beragam bangsa. Orang Indonesia yang ingin wajahnya dikartunkan kebanyakan tidak suka wajahnya dibuat ter-distorsi habis. mereka ingin wajahnya dibuat mirip seperti portret. Jadi pelajari juga tentang menggambar/melukis portret, lukislah obyek wajah sesuai dengan yang tampak kemudian buatlah bagian yang tidak proporsi pada badannya yaitu gambar badannya dibuat kecil dengan kepala besar! Ingat kepalanya adalah lukisan portret. Orang Indonesia akan puas dan menyebut gambar ini sebagai kartun. Memang tidak semua orang Indonesia berlaku demikian ada beberapa yang memang benar-benar suka kartun dan meminta wajahnya di-distorsi habis. Jadi, buat gambar yang terdistorsi pada orang Idoneisa hanya sesuai dengan permintaan. Yang penting Bermain aman! Okeh penjelasan ini cukup panjang, supaya tidak bosan - ajukan pertanyaan ini lagi, supaya penjelasan berikutnya bisa dilanjutkan pada paragraf baru! Tanya: Jelasakan saya mengenai stereotype! (Bagian 2) Jawab: Beberapa stereotype bangsa lain yang saya kenal: Kalau ketemu bule.. yakinlah untuk buat distorsi yang gila-guilaan. Makin gila makin mereka senang. Bahkan dalam kondisi gagalpun, misalnyanya anda tidak dapat menangkap karakternya sehingga gambar kartunnya tidak mirip sedikitpun. Tenang saja, mereka akan tetap menghargai. Ini berlaku untuk bule kulit putih dari berbagai ragam bangsa manapun - Saya sudah mengalaminya selama 20 tahun jadi maaf kalau saya merasa tahu... Kalau ketemu orang Jepang, stereotypenya mirip2 orang Indonesia yang kebanyakan tidak terlalu suka distorsi habis namun ingat jangan pernah bikin mata mereka sipit walaupun anda yakin si pemilik wajah matanya selalu merem tiap bicara apalagi tertawa... buatlah bundar besar, khusus mata loh! Mereka umumnya akan marah dan kadang2 tega mencaci maki si kartunis kalau matanya dibuat sipit. Lihat saja gambar manga yang dibuat org Jepang yang menggambarkan diri mereka.... Trus kalau ketemu ibu-ibu dari China daratan, ingat jangan pernah membuat kerut wajah mereka. Walaupun pada akhirnya hasilnya tidak mirip sama sekali... yang penting tidak menampilkan kerutan wajah... Sebenarnya masih banyak lagi stereotype lainnya. Pendeknya butuh wawasan dan pengalaman - try n error - terlebih dahulu untuk mengenali karakter sifat dari tiap bangsa... Segitu dulu.... forum tanya jawab lainnya dibuka untuk anda di bagian komentar. Silakan... Tags: blog kartun karikatur tip
Artikel Terkait:
Last update: 05-03-2008 12:07
|