Menu Utama

Gunakan Menu horisontal di atas untuk navigasi Menu Utama situs ini

Kategori Sesi Ini

Fans Club





Walk while you have the light!
"Loss is nothing else but change, and change is Nature's delight." (Marcus Aelius Aurelius)
 
Google
 
Beranda arrow Pos Tercecer
Pos Tercecer
Postingan dalam sesion ini adalah tulisan-tulisan lama di blog kami yang lama.. Beberapa diantaranya penuh kenangan. Jadi ada baiknya kami posting ulang.. sayang untuk tidak hadir kembali. Beberapa komen yang pernah ada juga kami sertakan.. Tanggal posting juga kami sesuaikan dengan masa postingan2 tersebut pernah ditulis.

Hari Sial Ebo Print E-mail
Diary Herbi
Written by Herbi Rose Mery   
Monday, 24 July 2006

Karena Ebo tidak sempat menulis, Herbi sempatkan mengabarkan sebuah kejadian…
Hari kamis lalu, 20/07/06 merupakan hari yang tidak begitu baik buat Ebo.

lampu depan motor ebo pecahSebuah motor tiba-tiba saja memotong jalur dan berbelok bersamaan dengan masuknya Ebo ke jalan tersebut. Kontan keduanya bertabrakan dan menyebabkan Ebo terjatuh serta mengalami memar di bagian lutut kiri dan meninggalkan beberapa luka di bagian paha akibat bergesekan dengan aspal. Lampu depan motornya Ebo juga pecah dan banyak goresan dimotornya. Bukan keadaan motornya yang utama, tapi keadaan Ebo. Kejadiannya berlangsung sekitar jam 10 pagi di seputaran Jl. Kedondong (hanya berjarak sekitar 2 meter dari kantor Bog-bog — kantornya Ebo). Proses damai menjadi jalan keluar. Kedua belah pihak memutuskan untuk mengurus masalah masing-masing tanpa harus melibatkan polisi. Sial memang. Padahal Ebo berencana pergi ke rumah Krisna Pandawa di Tabanan untuk menginstal akses internet buat Iwan - kakaknya Krisna. Malang tak dapat ditolak dan untung pun tak dapat diraih.

Sekitar jam 11 pagi hari itu Ebo telpon Herbi dan mengabarkan kalau dia batal ke Tabanan karena kecelakaan. Kaget dan bingung. Itulah yang Herbi rasakan. Tapi Ebo berhasil meyakinkan Herbi kalau keadaannya baik-baik saja terlepas dari lututnya yang memar dan pahanya yang banyak tergores. Ebo bilang itu hanya tabrakan ringan. Dada, kepala dan bagian vital lainnya sama sekali tidak tersentuh. Tapi tetap saja Herbi khawatir karena pada kenyataannya Ebo tidak dapat memakai kaki sebelah kirinya untuk berjalan. Terpaksa sepanjang hari itu Ebo totally duduk manis di kursi dan tidak pergi kemana-mana. Bahkan untuk membuat kopi saja Ebo meminta bantuan Rizal — teman kantornya. Dan paling parah lagi Ebo terpaksa diet makan siang karena tidak bisa turun ke ruangan bawah tempat dia biasa makan siang. Tapi aku salut sama Ebo. Di dalam suasana seperti itu Ebo sempat menghasilkan sebuah olahan photoshop yang bagus banget :-) dan mengirimnya ke email Herbi (Sori nggak bisa kita posting, isinya prifasi amat).

Acara ke Tabanan terpaksa dibatalkan dan sebagai gantinya kita akan berkunjung ke Fisioterapi langganan Ebo untuk mengecek keadaan lutut dan kakinya karena kebetulan Aji dan Ibunya Ebo sedang berada di rumahnya Ebo yang di Tabanan untuk membantu persiapan upacara ngaben salah satu tetangga. Herbi berharap semoga semuanya baik-baik saja. Dengan tidak ikhlas aku terpaksa melanjutkan kegiatan di kantor dan menghitung setiap jam yang berbunyi. Teng jam 4 sore. Pulang kerumah terus cabut ke Bog-bog buat jemput Ebo.

Sekitar jam 5.30 kita tiba di tempat yang dituju. Sekitar 1 jam kita berada disana. Lutut Ebo disinari lampu selama 30 menit kemudian dipijat perlahan oleh sang dokter fisioterapis. Untung si Dokter bilang kalau memarnya tidak terlalu parah. Sehabis dipijit, lututnya Ebo diperban dengan perban yang elastis. Dan Ebo diharuskan kontrol lagi dua hari kedepan - berarti hari Sabtu di jam yang sama untuk memastikan apakah seluruh otot dan tulang di sekitar lutut bisa berfungsi normal kembali. Satu hal yang mengejutkan Herbi, ternyata jumlah uang yang mesti kita keluarkan diluar perkiraan. Sangat reasonable dibandingkan kalu kita mesti ke dokter tulang dan ahli penyakit dalam. Dan hasilnya juga langsung terlihat. Terbukti dengan Ebo yang bisa langsung menggerakkan kaki dan lutut dan berjalan. Ya, biarpun masih tertatih tapi at least ada hasilnya.

Pulang dari fisioterapi terus cari makan. Fuyung Hay dan bakwan sayur menjadi pilihan menu kali ini. Rumah makannya pun gak jauh dari rumahnya Ebo.

kaki-di-perbanSehabis makan, Herbi ngaterin Ebo pulang kerumah untuk beristirahat. Sekitar satu jam Herbi disana. Pulang karena waktu sudah malam dan juga udara dingin sekali. Herbi tinggalkan Ebo dirumah sendirian - tapi sebelumnya Ebo sudah menelpon Aji dan Ibu meminta agar mereka pulang cepat- yang sedang menonton Kuch Kuch Hota Hai yang merupakan film India favoritnya. Ya, at least Herbi tahu kalau Ebo tidak merasa kesepian.

Kejadian tersebut membuat suasana hati Herbi agak kacau dan pastinya sedih banget. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi tapi untunglah semuanya berjalan lancar. Cepat sembuh ya sayang..

Jum’at pagi Herbi sempetin telpon Ebo. Dia bilang kondisinya sudah jauh membaik. Teman-teman kantor Ebo, Gatot dan Igo tidak lupa menuliskan nama mereka di perban Ebo. Lucunya. Kekhawatiran semakin berkurang. Acara ngarmen kartun di hotel Alam Kulkul pun dapat juga dilakoni Ebo. Ya…I think he’s getting better.

Sabtu sore Herbi nganterin Ebo ke fisioterapi lagi buat ngecek keadaan lututnya Ebo. Dokter bilang semuanya baik-baik saja tapi memang kemampuan kerja ototnya belum sempurna benar. Karena itu Ebo diharuskan kontrol lagi hari ini (Senin, 24/07/06). Dokter bilang proses penyembuhannya bisa seminggu. Sabar ya sayang… semuanya pasti akan cepat berlalu dan ingat jangan terlalu banyak kegiatan dulu ya…

 

Read more...
 
Jewel in the Palace - Dae Jang Geum Print E-mail
Diary Herbi
Written by Herbi Rose Mery   
Sunday, 15 January 2006

daejanggeum3

Herbi punya kesukaan baru sekarang, nonton serial Jewel in the Palace - Dae Jang Geum. Diputar setiap hari Senin sampai Jum’at dari jam 6 sore sampai jam 7 malam waktu Bali.

Serial ini merupakan kisah nyata dari seorang wanita Korea bernama Dae Jang Geum dalam mencapai emansipasi (Ibu Kartini-nya Indonesialah). Dia merupakan wanita karir pertama di Korea. Pokoknya TOPBGT deh…Herbi sempat terpikir kenapa ya di Indonesia gak ada serial atau film dengan tema2 seperti ini. Andaikan riwayat RA Kartini divisualisasikan alias di-film-kan atau at least dibuat serialnya, pasti menarik banget dan tentunya mendatangkan banyak input buat kita semua.

Well anyway, karena Dae Jang Geum -lah, setiap kali Herbi ada janji pasti diusahakan setelah jam 7 malam because I really don’t want to miss that. It’s worth to be watched. Mama udah pernah nyaranin buat beli DVD /VCD-nya biar gak penasaran katanya. Tapi, sampai sekarang belum ketemu. Sudah ngubek2 rental dan tempat penjualan DVD / VCD se-Denpasar but still with no luck. Kalau ada yang punya informasi tentang penjualan atau penyewaan DVD / VCD Jewel in the Palace please let me know ya….

All about Dae Jang Geum of Jewel in the Palace Korean drama bisa dilihat disitus berikut ini (I found it in search enginee):

 

 


Tags:  Jewel in the Palace - Dae Jang Geum
Read more...
 
War of The Worlds Print E-mail
Diary Ebo
Written by Putu Ebo   
Tuesday, 09 August 2005

Ebo dan Herbi rencananya nonton GIE tapi nggak jadi, karena datang ke bioskopnya telat. Akhirnya kita milih studio yang lain nonton film 'War of the Worlds'. So this is the sekelumit cerita yang aku kumpulkan tentang War of The Worlds

Versi Hollywood War of the Worlds terbaru karya Steven Spielberg yang diangkat dari Novel karya H.G. Wells ini cukup menarik perhatian. Bukan cuma karena film ini dikerjakan oleh sutradara kenamaan yang sukses dengan puluhan karya penuh special effect megah tapi karena War of the Worlds merupakan karya klasik yang telah menjadi beautiful nightmare bagi para remaja dan anak-anak selama puluhan tahun.

Beberapa orang menganggap War of the Worlds adalah kisah khayalan yang konyol, tentang ekspansi mahluk Alien terhadap bumi. Tapi bagi yang menghargai sebuah proses berkarya, War of the Worlds adalah salah satu ide jenius tentang ekspansi pemikiran yang telah mempengaruhi banyak kreator kisah-kisah science fiction masa kini. Sebut saja, Steven Spielberg yang pasti sudah sangat anda kenal dengan karya-karyanya yang luar biasa. Steven mengangkat ‘kisah konyol’ ini ke media layar lebar demi menghormati sebuah kisah yang yang telah membimbingnya menjadi tukang cerita yang dibayar mahal karena khayalannya.

Tahukah kamu? Kisah War of the Worlds pernah menjadi kisah yang sangat menggemparkan Amerika pada tahun 1938. Karena novelnya sangat laku seperti Harry Potter? Bukan!, bukan!. Bukan karena best seller. Tapi karena kisah War of the Worlds pernah bikin masyarakat Amerika panik luar biasa.

Satu malam sebelum Hallowen tahun 1938. War of the Worlds dikisahkan dalam bentuk drama radio, diprakarsai oleh 2 orang pendongeng Orson Welles dan John Houseman.

Ketika Jutaan orang di Amerika mendengar sebuah sandiwara radio, tiba-tiba ditengah-tengah kisah dipotong sebuah berita radio yang mengejutkan. “Ladies and gentlemen, Saya Carl Phillips, saat ini saya berada di Wilmuth farm, Grovers Mill, New Jersey. . . .Well, Saya . . tidak tahu dari mana memulainya, saya tidak punya kata-kata untuk menceritakannya! saya baru saja tiba di tempat ini… saya hampir tidak mempercayai apa yang saya lihat saat ini … sebuah pemandangan yang menakjubkan…. seperti… seperti dalam kisah modern Arabian Nights. Saya tidak tahu apa yang saya lihat… sesuatu muncul dari dalam tanah. Tadi diawali sebuah goncangan yang hebat…. kemudian sebuah lubang menganga dari dalam bumi…. seperti sebuah bekas meteor yang jatuh. Lihat.. sebuah obyek keluar dari lubang tersebut .. bukan meteor… tapi lebih menyerupai silinder raksasa….”

Selang beberapa menit kemudian “reporter” Phillips, ditemani oleh “astronomer,” Professor Pierson, menceritakan seperti sebuah berita radio tentang kemunculan robot-robot raksasa dari dalam bumi yang menghancurkan apapun yang menghadang. Menghancurkan gedung dan membunuh ribuan manusia. Ditambah dengan laporan beberapa reporter lain yang dikisahkan menceritakan kejadian secara langsung tentang penyerangan alien di daerah yang lain.

Kisah ‘Siaran Berita’ tersebut makin lama makin berkembang, makin horor dan bertambah kacau. Ditambah lagi dengan sound effect yang mengesankan bangunan roboh dan dihancurkan dan juga suara latar belakang orang-orang yang minta tolong ketakutan. Para pendatang asing dari planet Mars telah datang untuk menguasai Bumi!. Dikabarkan kemudian, bahwa robot-robot alien sebentar lagi tiba di New York. Tentara AD dan AU mati-matian menghadang serangan tersebut. Para alien menghancurkan jalur komunikasi dan menyemburkan gas beracun. Beberapa saat kemudian ‘Pejabat Departemen Keamanan’ memberikan pidatonya lewat radio agar masayarakat Amerika jangan panik.

Yang terjadi pada malam itu adalah: Pidato tersebut memancing masyarakat Amerika jadi panik beneran. Sebagian besar pendengar radio mempercayai apa yang baru saja mereka dengar bukan sebuah sandiwara radio. Kepanikan massal terjadi di New York, Orang-orang banyak yang mengungsi, aksi ini memicu orang-orang yang tidak tahu menahu tentang ‘berita radio’ tersebut. “Tidakkah kamu mendengar pasukan alien sebentar lagi akan menghancurkan New York?, ayo selamatkan dirimu!” begitu seru orang-orang panik tersebut. Histeria massal ini menyebabkan macet yang panjang, banyak yang menangis ketakutan, banyak yang mati karena kecelakaan dan ada pula kabar tentang orang-orang yang memilih untuk bunuh diri.

Pada esok harinya, banyak media memasang kisah konyol ini. New York Daily News memasang headline: “Fake Radio ÔWar’ Stirs Terror Through U.S.”, kemudianThe New York Times:"Radio Listeners in Panic, Taking WarpDrama as Fact"

war of the worlds - new york times headline

Robert E. Bartholomew dan Benjamin Radford, dalam bukunya Hoaxes, Myths, and Manias (2003), menulis bahwa sandiwara War of the Worlds sebuah kisah Khayalan yang berhasil mengelabui orang-orang terbesar dalam sejarah. Kepanikan karena sebuah kebohongan radio yang lainnya pernah terjadi juga di stasiun radio Chilli di Santiago Pada tanggal 12 November 1944. dan juga tercatat di Quito, Ecuador, 12 Pebruari 1949

Alex Boese lewat Museum of Hoaxes (2002) mengatakan “sandiwara radio tersebut tidak bertujuan untuk membohongi siapapun.” Mustinya masyarakat harus bisa menilai sesuatu benar apa tidak langsung ke stasiun radio. Bukankah acara radio War of The Worlds sudah jelas-jelas menggambarkan sesuatu yang bohong, di mana ada pesan-pesan komersial yang juga ikut tersiarkan di sela-sela acara, ada pembukaan dan juga musik pengiring yang terencanakan. Jelas-jelas ini sebuah acara hiburan yang hanya berisi permainan”

Orson Welles si otak pembuat acara sandiwara radio ini mengatakan bahwa masyarakat mestinya sudah mengenal bahwa tehnik sandiwara radio yang dikemas seakan-akan sebuah reportasi siaran berita ini telah dipakainya berulang-ulang sejak 1926.

Lucu ya…?


Tags:  war of the worlds hollywood movie Steven Spielberg H.G. Wells
 
Tragedi MIX MAX Print E-mail
Diary Herbi
Written by Herbi Rose Mery   
Sunday, 31 July 2005
Jam 1 siang Herbi ke Bog2 karena janji mo nemenin Mbak Lia jalan2. Walaupun akhirnya kita menghabiskan waktu di Bog2 sambil ngobrol, tapi obrolannya menyenangkan juga. Apalagi ada Bli Jango - kartunis terkenal Bali yang ikutan nimbrung. Seru deh…dari ngomongin soal seni, kasus Corby part 2, ngomongin Australia dan respon warga OZ ttg. kasus Corby sampe ngomongin soal Dewa Budjana-nya GIGI…..Asik banget lho buat ngebunuh waktu. Herbi juga minta bantua Ebo buat nyariin lirik lagu Iwan Fals (Rasa Sesal) dan Marcell (Jangan Pernah Berubah) buat Ecan audisi besok. Pas jam 3 sore, Herbi dan Mbak Lia nganterin Ebo pulang ke Muding soalnya Ebo mo ngambil baju dan beberapa perlengkapan lainnya. Jadilah kita meluncur ke rumah CAMER :) . Dirumah Ebo cuma ada Ibu karena Aji ke Jawa u/ menghadiri acara persembahyangan. Makan pisang goreng buatan Ibu dan ngobrol. Dan ternyata kita baru tahu kalo Herbi itu punya kesukaannya yang sama seperti Ibu, Gusde dan Ebo…yaitu suka makan buah mengkudu. Seru juga nih….bisa jadi perang memperebutkan mengkudu deh :) . Ibu janji mo buatin Herbi rujak mengkudu namti. OK deh Ibu…I’m coming…..Oh ya….Ebo minjemin Herbi DVD-nya. Ada Discovery Channel (Cerita Yesus di Himalaya) dan satu DVD keren abis yang bertajuk “The Schlindler’s List”. Kata Ebo sih itu film yang wajib tonton. Jadi penasaran neh….We’ll see…Maunya sih minjemin VCD Star Wars dari semua seri tapi satu disk hilang. Gak tau kemana…Ebo udah ngubek2 seisi rumah tapi tetap gak ketemu. Ya udah…pinjamnya lain kali aja biar lengkap dulu….

Jam 7 malem kita ketemuan di PITIK BALI. Bazaar komunitas hari ke-2 dimulai. And U know what……Herbi dan Ebo bahagia sekali…..karena malam ini secara resmi Herbi memperkenalkan Ebo sama keluarga. Dan mereka responnya positive. Herbi gak tau kekuataan dari mana yang membuat Herbi berani ngomong ttg hal ini sama papa dan mama (mungkin karena kepedasan kali ye…soalnya abis makan sayur plecing ?). Padahal sebelumnya kita udah ngerencanain untuk ngasih tau papa dan mama tentang hubungan kita abis kita balik dari Jakarta. Tapi ternyata Tuhan berkata lain…..Dan malam ini Ebo ngajarin Ecan lagu Iwan Fals yang judulnya RASA SESAL karena kebetulan besok Ecan mo audisi Lomba Cipta Bintang BaliTV 2005. Ebo juga sempat gitaran juga sama Ecan. Ah…lega rasanya. One problem has solved……Dan secara gak langsung mama ngundang Ebo maen ke rumah buat main kartu karena keluarga Herbi gila banget sama permainan kartu……Oh ya…malem ini Ebo juga Herbi kenalin sama teman-teman kantor yang datang ke acara bazzar. Senang rasanya…..Dan ternyata Pak Putu (salah satu teman kantor) itu kenal sama Pak Darmadi dari Paradise FM dan yang lebih membanggakan lagi ternyata Pak Putu mendapatkan referensi yang OK tentang Ebo dari Pak Darmadi. Ebo juga ngenalin Herbi ke beberapa teman dan kenalannya dia…..Bazzar malam ini lumayan rame dan kita pulang jam 1200 pm. Abis pulang kita langsung kerumah Mbak Lia. Herbi, Ebo dan Mbak Lia ngobrol sampe jam 2 pagi trus kita cabut pas Manik udah datang. Dan Ebo dengan manisnya nganterin aku pulang.. Katanya sih dia mo pulang tapi ternyata di balik lagi ke kantor karena gak kuat nahan ngantuk (mungkin karena Mix Max yang kita minum di rumah Mbak Lia kali ye…). Sampe rumah jam 02.30 pagi. Gak tau kenapa kok gak ngantuk rasanya…..Bongkar2 lemari makan dan dapetin 1 paha ayam McD. Lumayan lah buat ganjel perut buat bekal begadang. Buat bunuh waktu langsung kepikiran untuk nonton DVD-nya Ebo. Herbi pilih “The Schlindler’s List” untuk menemani diriku di pagi buta ini. Udah nonton 2 disk dan ternyata mata udah gak bisa diajak kompromi lagi. Ngintip jam udah jam 04.30 pagi. Matiin DVD player dan langsung narik selimut. Zzzzp….zzzzzp…zzzp…..zzppp…..

Tags:  Diary Herbi Tragedi MIX MAX
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Results 6 - 9 of 9
home contact search contact search