|
Satu periode kehidupan telah Herbi lalui, menikah,…ya akhirnya aku memutuskan untuk menikah dengan Ebo setelah melewati masa pacaran 1 tahun. Dan sekarang aku telah memasuki satu episode hidup yang lain. Yap….I am pregnant. Kehamilan pertama ini membawa arti penting bagiku dan Ebo dan tentu saja hal ini mebuat kami berdua sangat bahagia. Apalagi kedatangan si CABI (calon bebi) benar2 tidak kami duga sebelumnya. Tuhan telah berbaik hati untuk langsung memberikan kami anugerah ini tidak lama setelah pernikahan kami. Dan sekarang si CABI telah berumur 6 bulan dan akam memasuki usia 7 bulan dalam hitungan beberapa hari lagi. Aku sangat bahagia Diluar segala hal2 yang agak tidak menyenangkan semasa kehamilan bulan pertama, aku tetap menganggap kehamilan ini sebagai suatu keajaiban dan aku bertekad dan berusaha untuk menjaganya sebaik yang aku bisa. Ya, mungkin aku sedikit berlebihan. Harap maklum ya….Ini kehamilan pertamaku dan aku benar2 berada di langit ketujuh karenanya. Selain aku dan Ebo, tentu saja semua keluarga Herbi merasa bahagia juga. Si CABI akan menjadi cucu pertama bagi Mama dan Papaku dan akan menjadi keponakan pertama buat Kelin, Puti dan Ecan. Bagi orangtua Ebo, CABI akan menjadi cucu kedua mereka. Oh ya…kalau semuanya lancar, si CABI diperkirakan akan lahir tanggl 6 Agustus 2007. Mohon doanya ya biar semuanya berjalan lancar.
Herbi mau berbagi cerita (dan biar CABI tahu juga) kalau semasa kehamilan Ibunya ini pernah ada satu cerita yang tidak menyenangkan dan membuat aku dan Ebo stres. Ceritanya begini. Setelah beberapa kali mencoba dokter kandungan guna mendapatkan yang terbaik, akhirnnya Herbi dan Ebo memutuskan untuk memakai Dokter A (nama sengaja disamarkan untuk tidak menimbulkan kesan menjatuhkan nama baik Dokter ini). Banyak rekomendasi bagus yang kami dapatkan tentang dokter A. Dan memang dokter A ini merupakan salah satu dokter kandungan yang terkenal di Bali dan praktek di sebuah RS Bersalin yang bonafide di kota Denpasar dengan pasien dari kalangan menengah ke atas dan kebetulan juga RS Bersalin tempat Dokter A praktek merupakan RS Bersalin yang bisa mengcover asuransi Herbi dari kantor. Jadi klop khan? Dokter A ini juga merupakan tim dokter untuk program bayi tabung di Bali. Sebagai tambahan, Dokter A ini beserta rumah sakitnya (dengar2 sih Dokter A ini salah satu pemegang saham di RS Bersalain tsb) sering mengadakan seminar tentang kehamilan dan persalinan dimana peserta yabng ikut selalu membludak (dan kami sudah tentu menjadi salah satunya) Jadi, tanpa ragu-ragu lagi, kami memutuskan untuk memakai dokter ini.
Beberapa kali pemeriksaan telah kami lalui dengan si Dokter A. Semua berjalan sempurna pada awalnya. Sampai akhirnya, cerita ini terjadi pada saat pemeriksaan CABI yang kali keempat, tepatnya pada Hari Selasa, tanggal 3 April 2007. Pada saat pemeriksaan ini, memang berat badanku naik cukup drastis dari 70 kg bulan sebelumnya dan mencapai 75 kg pada pemeriksaan waktu itu. Dan tensiku menunjukkan angka 140 (jauh dari biasanya yang berkisar 110-120). Aku sih yakin kalau tensiku naik karena malam sebelumnya aku begadang dan hanya tidur selama 3 jam. Dan keesokan paginya aku mesti berkutat dengan pekerjaan dan tugas kantor yang menumpuk. Belum lagi dengan banyaknya tugas sehari2 yang lain. Dan lagi pula, dari beberapa buku kehamilan yang Herbi baca, naik turunnya tensi pada ibu hamil merupakan sesuatu yang lazim. Sebenarnya Herbi tidak mengkhawatirkan hal ini. Tetapi ternyata si Dokter A berpendapat lain. Tanpa tedeng aling2 dan tanpa diagnosa lanjutan, dia langsung memutuskan kalau Herbi terkena Pre-eklampsia (keracunan kehamilan). Karena Herbi lumayan baca banyak buku kehamilan, Herbi tahu apa itu Pre-eklampsia, apa penyebabnya dan sefatal apa akibat yang bisa ditimbulkan bagi Ibu dan si bayi. Penyakit ini merupakan salah satu momok menakutkan bagi ibu hamil dan tentu saja membuat Herbi stres dan benar2 gak percaya. Si Dokter A menyarankan Herbi untuk mengurangi konsumsi garam dan daging2an. Tentu saja ini membuat Herbi heran karena sebelum dan selama kehamilan memang Herbi tidak pernah mengkonsumsi garam secara berlebihan bahkan garam yang Herbi konsumsi cenderung dibawah batas normal. Dan Herbi juga tidak terlalu mengkonsumsi daging secara berlebihan. Jadi, mana mungkin ini bisa terjadi? Dan seharusnya, dari buku yang aku baca, ada beberapa indikasi untuk memvonis seseorang terkena Pre-eklampsia selain dari pertambahan tensi dan berat badan. Dan sebenarnya hal yang paling penting yaitu adanya pembengkakan pada bagian tubuh seperti kaki, tangan dan muka. Dan Herbi tidak mengalami pembengkakan ini. And the most important thing is, si Dokter seharusnya melakukan tes urin atau setidaknya merekomendasikan hal ini untuk memastikan apakah ada protein dalam urin ini. Bodohnya, si Dokter A ini tidak melakukan tes urin ini sebagai diagnosa yang terpenting sebelum memastikan kalau Herbi terkena Pre-ekplamsia atau tidak. Dan seharusnya si Dokter A tidak boleh langsung memvonis Herbi seperti itu tanpa melakukan diagnosa lebih lanjut. Seharusnya si Dokter A bisa lebih mempertimbangkan sisi psikologis Herbi sebelum memutuskan. Apa dia tidak tahu kalau dianosa ngawur dia membuat Herbi syok dan stres dan tidak bisa tidur semalaman. Sebagai Dokter kandungan yang cukup terkenal seharusnya dia tahu dong…Herbi benar2 kecewa dan marah sama Dokter A ini dan berjanji Herbi tidak akan merekomendasikan dia sama siapapun. Takut saja kalau hal yang Herbi alami terjadi sama ibu hamil yang lain. Kasian kan. Ok, singkat cerita, Herbi mendengarkan semua ocehan Dokter A itu dan menebus semua obat yang Herbi kasih. Gila, obat yang dia kasih banyak banget dan Herbi harus merogoh kocek hingga 300 ribu untuk menebusnya. Dan yang lebih parah lagi dan membuat jengkel, pada akhirnya Herbi tahu dari Kak Yeni, kakak sepupu Herbi, yang juga dokter kandungan di Jakarta di beberapa rumah sakit terkenal di Jakarta, kalau ternyata semua obat yang Dokter A kasih ke Herbi itu sama sekali tidak ada gunanya bagi kehamilan Herbi yang baru memasuki bulan ke 6 dan beberapa obat ternyata memiliki kasiat dan kandungan yang sama, cuman mereknya saja yang berbeda. Dan beberapa obat ternyata harus Herbi konsumsi setelah proses kelahiran. Sialan (dalam hati). Betapa komersialnya dan betapa “money minded”nya Dokter ini. OK. Kembali ke topik tadi. Herbi pulang dengan perasaan galau. Setelah membaca semua buku dan memperoleh kesimpulan sendiri bahwa Herbi tidak mengidap penyakit ini, Herbi mencari second opinion dengan menelpon Kak Yeni. Dan benar saja. Kak Yeni pun menyayangkan semua informasi dan diagnosa yang Dokter A berikan. Dan memang, seharusnya Dokter A melakukan tes urin sebelum memvonis penyakit itu. Akhirnya dengan inisiatif dan anjuran dari Kak Yeni, Herbi melakukan tes urin lengkap di PRODIA keesokan harinya. Dan seperti keyakinan Herbi semula, semua baik2 saja. Hasil urin yang Herbi terima semuanya menunjukan hasil yang negatif dan normal. Semua baik2 saja. Herbi langsung menelpon Kak Yeni, dan dia meyakinkan kalau aku baik2 saja. Kenaikan berat badan terjadi karena memang nafsu makanku yang rada menggila setelah mengalami proses mual dan muntah dibulan2 awal kehamilan. Tensi naik karena hal aku sebutkan sebelumnya dan juga merupakan hal yang lazim dalam kehamilan. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengganti doker buat CABI. Kebetulan Kak Yeni memiliki sahabat yang juga dokter kandungan di Bali. Kak Yeni bilang Dokter B ini sangat teliti dan kooperatif dan dia merupakan dokter terbaik dan terpandai di UNDIP (Universitas Diponegoro) Semarang dimana dia dan Kak Yeni merupakan satu angkatan. Memang sih harganya cukup mahal dibandingkan dokter kandungan yang lain tapi Herbi gak peduli. Bukannya mau sok kaya, tapi menurut Herbi dan Ebo, kesehatan Herbi dan CABI dan psikologis serta kenyamanan dalam menjalani kehamilan ini merupakan hal yang jauh lebih berharga daripada uang. Dan untungnya semua biaya dokter buat si CABI ditanggung asuransi kantor. Syukurlah….setidaknya masih ada sisi baiknya. Dan ternyata Dokter B ini merupakan dokter pertama yang Herbi kunjungi karena dekat dari rumah Ebo. Doker B juga praktek di RS Bersalin yang Herbi mau dan dia juga memiliki praktek RS Bersalin pribadi. Karena Kak Yeni yang memberikan rekomendasi, Herbi dan Ebo merasa jauh lebih nyaman untuk memilih Doker B ini. CABI, Herbi dan Ebo pun mengunjungi Dokter B ini hari Selasa tanggal 10 April 2007 dan menceritakan semua hal yang terjadi pada Dokter A. Dokter B melihat hasil urin Herbi dan memastikan kalau Herbi baik2 saja. Si CABI pun di USG dan semuanya normal dari ukuran berat dsb. Ah….jadi lega rasanya. Itulah sekelumit cerita tidak menyenangkan selama aku hamil si CABI. Untungnya semua berakhir dengan melegakan. Mungkin cerita Herbi ini bisa dijadikan acuan dalam menentukan dokter kandungan. Ternyata, dokter terkenal dengan pasien yang bonafid dan dari rumah sakit bersalin yang bonafid juga bukanlah merupakan hal yang dapat dijadikan kepastian bahwa dokter itu bagus dan teliti. Terkadang tidak semua yang kita lihat seperti yang kita harapkan.
.. Supaya dibaca Chiara suatu saat nanti, Postingan ini diselamatkan oleh archive.org . Komen2 di situs yang lama kami pasang ajah lagi: - Junkerz side B , April 16th, 2007 at 12:23 pm
waahh..selamat..!! :dadah: btw, kenapa ga CHUBBY sekalian?? *kabur…* - ridu , April 24th, 2007 at 7:51 am
Selamat ya mba herbi, wah pasti seneng banget udah mao punya momongan! jadi pengen cepet2 punya anak juga deh! (lho, kawin aja belom! hehehe) Kira2 lahirnya teh kapan? - golda , April 24th, 2007 at 6:05 pm
wuahh.. cerita ttg dokter kyk gini banyak banget, Herbi.. apalagi aku kuliah di ruang lingkup kesehatan dan rumah sakit. so far, untuk dokter ObGyn sih aku udah tau mau kemana untuk nanti2 pas udah hamil. dokter yg nanganin kelahiran adikku (12 thn yg lalu). sudah di tes sama my mom, dokternya bagus.. jadi ngga nyari2 lagi. hihihi.. :p kalo pas kawinan kalian aku dateng, pas lahiran aku dateng juga dong!! :D - ridu , April 24th, 2007 at 6:30 pm
Duuh, seneng banget! Selamat ya mba.. sebentar lagi udah bisa menggendong buah hati niy…! Jadi pengen cepet-cepet punya anak deh! (Lho nikah aja belom..!) anyway, kira2 kapan niy lahirnya! wah pasti anaknya lucu banget! : - balung , May 11th, 2007 at 10:36 pm
mbak.. sorry telad.. congratulations yah
Tags: chiara puspa renata Nama Sementara: CABI
Artikel Terkait:
|