| Written by Putu Ebo, on 28-12-2007 14:21 |
| Views |
746  |
|
|
|

“Cock-a-doodle-doo !! Marilah bermain !!! ”Kokok ayam bukan sekedar pertanda pagi, bahasa unggas ini juga mencitrakan anak-anak. Dalam bahasa kehidupan, hari esok adalah hari depan anak-anak. Pikiran sederhana inilah yang menggugah Taro untuk selalu dekat dengan anak-anak. Bahkan teater yang ia dirikan sejak tahun 1979 di beri nama “Teater Kukuruyuk “
Made Taro adalah sosok pendidik yang sederhana. Ia sangat mencintai pekerjaannya yang selaras dengan hobinya bercerita, menginventarisasi permainan anak-anak, menciptakan lagu anak-anak. Sehingga banyak prestasi yang telah ia raih, diantaranya pernah meraih guru teladan tingkat Propinsi Bali, serta pernah meraih hadiah penulis cerita anak-anak terbaik tingkat Nasional di Jakarta.
Menulis cerita anak bagi Taro, adalah panggilan jiwanya. Dorongan intuisi kreatifnya merangsangnya melakukan kegiatan menulis cerita anak-anak, sehingga ia sangat jarang memperhitungkan uang. Ketika ia memperbanyak buku yang ditulisnya, Taro melakukannya dengan merogoh koceknya sendiri, mengumpulkannya dari honorarium yang ia peroleh dari tayangan televisi maupun gajinya dari sekolah tempat mengajar.
Taro sangat bangga bila berhadapan dengan mesin ketik dan anak-anak. Taro merasa ada ketenangan jiwa bila sedang menulis, mengarang lagu anak-anak. Ketika ia menulis, terbayang dalam pikirannya, kelak tulisannya dibaca banyak orang, tidak hanya dipajang di perpustakaan atau disimpan dalam rak buku.
Taro bangga bila gubahan lagunya dinyanyikan anak-anak, sehingga ia merasa menjadi bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Inspirasi Taro mengalir seperti mata air pegunungan, tak pernah kering. Berawal dari melihat anak-anak di asrama guru-guru SMA II Denpasar yang bengong saban hari, tak berbuat sesuatu, Taro melihatnya sebagai anak-anak yang telah kehilangan dunianya. Maka Taro berinisiatip untuk mengajak anak-anak itu bergabung untuk mendengar ia bercerita, mengajaknya bermain, pergi ke pantai, berolah raga, dua kali seminggu. Ajakan Taro berhasil, anak-anak tersebut sangat antusias, bahkan sangat menanti-nanti kehadirannya untuk bercerita. Taro tak hanya bercerita, tapi mengajarkannya budi pekerti, bahkan sampai – sampai berhasil mendidik anak –anak untuk memakai pakain dalam, dimana para orang tuanya sangat susah untuk memberitahu anak-anak mereka. Banyak pujian yang ia terima dari para orang tua anak-anak tersebut.
Sejak itulah Taro mendirikan sanggar cerita untuk anak – anak para penghuni asrama guru tersebut. Lalu Taro mulai menggali cerita cerita rakyat serta menulisnya sebagai bahan bacaan untuk anak. Taro membagi cerita anak tersebut ke dalam tiga jenis yakni yang berkaitan dengan dongeng, mitos atau mite serta legenda. Buku dongeng Taro yang terakhir yakni “Dongeng-dongeng Pekak Mangku” diilhami oleh ayah Taro sendiri yang suka bercerita didepan anak-anak dan cucunya. Cerita yang paling menarik baginya adalah cerita Pan Cubling yang pernah ditampilkan dalam bentuk operet di televisi.
Kebanggaan Taro yang lain adalah masuknya permainan anak-anak dalam kurikulum mengajar di sekolah anak-anak. Permainan local anak-anak tersebut telah masuk sejak tahun 1994 tetapi realisasinya baru pada tahun 1996. Ada 17 jenis permainan yang telah diterapkan di sekolah dasar kini. Semua permainan itu ada yang menggunakan sedikit gerakan, sedikit orang, hingga permainan yang membutuhkan banyak orang dan halaman luas. Dalam permainan tradisional asli, anak –anak melakukannya secara spontan dengan tanpa nyanyian, tetapi agar menjadi lebih menarik, Taro menambahkan nyanyian dalam permaianan tersebut sehingga lebih menarik, lebih semarak dan menjadi hidup. Metode pengajaran permainan di sekolah pun ia ajarkan secara demokratis. Ada metoda yang mana, anak-anak sendirilah yang memilih permainan yang mereka senangi. Metodanya sama seperti metode berolah raga, dengan memberikan sedikit gerakan pemanasan atau gerakan seperlunya, bila perlu disertai nyanyian tradisional Bali, setelah pemanasan badan selesai, barulah anak-ana memulai permainan tradisional. Setelah selesai permainan, anak-anak di berikan gerakan minim, yang bertujuan untuk penenangan. Berkonsentrasi lewat bahasa-bahasa isyarat. Setelah gerakan penenangan selesai, barulah anak-anak diberikan cerita cerita menarik sebagai penutup oleh guru pengasuh masing-masing sekolah.
Ditengah usianya yang kian uzur, serta pensiun sebagai guru pengajar di sekolah, Taro tak pernah berhenti untuk dekat dengan dunia anak-anak. Kini setiap hari Rabu dan Minggu, Taro tetap datang ke Sekolah Dasar No 18 Dauh Puri Denpasar, memberi aba-aba, meniup pluit, mengajak anak-anak untuk bermain, mengolah tubuh , berlarian kesana kemari, sambil berdendang, menyanyikan lagu-lagu rakyat, membuat hari-harinya menjadi berguna. Tua bukan berarti berhenti mengabdi. Kecintaannya terhadap dunianya mengalahkan phisiknya yang kian uzur din terpa umur.
Tapi bagi Taro, mengkoleksi 150 lebih jenis permainan tradisional nyaris punah, yang ia inventarisir sedikit demi sedikit, seperti zikir para pendeta lewat tasbihnya, adalah sebuah sumbangan tak ternilai buat masa depan kita. Bentuk kerja tanpa kata yang ia lakoni menjadikan Taro sebagai sosok soko guru yang patut ditiru oleh generasi kita sekarang. Selamat bekerja terus, si tua karang dalam kebisuan dan kesepian di tengah jaman yang semakin tak berujung……. Link - Link terkait ke situs lain:
MADE TARO lahir di Desa Sengkidu, Karangasem tahun 1939. Ilmu Arkeologi yang ditekuninya di Faksas Unud Denpasar, membuatnya tertarik kepada penggalian dan pelestarian budaya mengenai cerita rakyat, permainan rakyat dan nyanyian rakyat. Melalui Sanggar Kukuruyuk, yakni sanggar anak-anak yang didirikannya pada tahun 1979, ia mensosialisasikan ketigajenis budaya itu dengan melakukan tayangan-tayangan di televisi, menulis di berbagai koran, majalah, dan menerbitkan banyak buku. Ketika mengajar Antropologi di SMA 2 Denpasar (pensiun tahun 2000), Made Taro pernah mendapat tugas mengajar di beberapa sekolah di Darwin, Australia, dan menjadi dosen honorer di Fakultas Sastra Unud dan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dwijendra, Denpasar. Penghargaan yang diperolehnya dan pemerintah maupun non pemerintah, antara lain :Guru Teladan, Seni Kerti Budaya, Bali Award, Anugerah Permata, Adikarya Ikapi Jakarta, Hadiah Sastra Rancage, dan penghargaan-penghargaan lain sehubungan dengan pendidikan, pelestarian budaya, karang-mengarang dan story telling.
Last update: 28-12-2007 14:21
|